Pabrik Hantu dan Bayang-bayang Ternak Pita Cukai: Siapa Sebenarnya yang Diuntungkan?

Jumat, 13 Juni 2025 - 08:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto. M.Faizi Jurnalis Serikat News

Foto. M.Faizi Jurnalis Serikat News

KOLOM, nusainsider.com Saya tidak akan mulai tulisan ini dengan istilah teknis. Saya hanya ingin mengajak Anda membayangkan satu hal sederhana: sebuah bangunan besar, megah di beberapa pelosok bahkan pinggir jalan desa.

Dulu katanya akan jadi pabrik rokok. Tapi sudah lebih dari beberapa tahun terdapat pabrikan yang diduga tak ada suara mesin. Tak ada lalu lalang buruh bahkan tukang parkir pun nyaris tak ada.

Saya menyebutnya: pabrik diam. Tapi belakangan, istilah yang lebih tajam mulai dipakai orang—ternak pita cukai.

Istilah ini mencuat ketika saya dan beberapa rekan jurnalis berkesempatan bincang-bincang dalam sebuah pertemuan dengan Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo. Obrolan kami awalnya biasa saja tapi menghangat ketika pembahasan menyentuh soal industri rokok lokal yang sedang tumbuh atau pura-pura tumbuh.

Bupati Fauzi menyampaikan kegelisahannya secara terang-terangan. Ia menyoroti maraknya pabrik-pabrik rokok yang berdiri megah namun nyaris tak punya aktivitas. Tidak ada produksi, tidak ada kontribusi ke masyarakat sekitar, tidak ada tenaga kerja lokal yang terserap. Tapi anehnya, mereka tetap hidup bahkan menikmati manisnya fasilitas pita cukai.

Baca Juga :  Prosedur KRS UNIBA Madura Menuai Keluhan, Mahasiswa Minta Reformasi Administrasi

Model seperti ini ibarat beternak izin dan pita cukai bukan beternak tembakau.

Dalam bahasa awam: pabrik dibuat hanya untuk mendapatkan fasilitas cukai dari pemerintah. Bukan untuk benar-benar memproduksi rokok atau menyerap tenaga kerja. Ada bangunan, ada izin, ada nama usaha. Tapi kosong. Nihil manfaat bagi lingkungan. Lalu, apa yang salah?

Mungkin tidak ada yang benar-benar melanggar hukum. Tapi ada yang sangat salah secara moral. Pabrik itu mestinya bukan hanya tempat produksi. Ia adalah mesin penggerak ekonomi lokal. Ia seharusnya membuka peluang kerja. Membuat warung-warung kecil di sekitarnya ikut hidup. Memberi pemasukan bagi desa bukan sekadar mengecat tembok dengan logo perusahaan.

Sama halnya begini, Bupati Fauzi melalui Kalender Event-nya memiliki hasrat besar: menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat sekitar dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Karena itu, dalam setiap penyelenggaraan event, keterlibatan UMKM selalu menjadi prioritas utama yang selalu mendapat perhatian.

Baca Juga :  Pantai Slopeng Bersiap! Festival Ketupat 2025 Akan Menggebrak Sumenep

Fakta bahwa model “pabrik hantu” ini bisa hidup subur menunjukkan ada ruang abu-abu dalam sistem perizinan dan pengawasan. Pemerintah pusat memberi banyak insentif bagi industri hasil tembakau dalam bentuk Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Sayangnya, insentif ini kadang dimanfaatkan lebih banyak oleh mereka yang jeli secara administratif bukan yang serius secara produktif.

Dalam dunia ekonomi, hal ini sejalan dengan kritik klasik Amartya Sen, peraih Nobel Ekonomi:

“Pertumbuhan personal tidak selalu sejalan dengan kesejahteraan komunal. Pasar bisa bergerak cepat untuk segelintir orang tapi melambat bahkan membusuk di titik-titik paling dekat dengan rakyat.”

Saya percaya Bupati Sumenep tidak sedang anti investasi. Ia hanya sedang mencoba menegakkan logika sederhana: pabrik rokok harus memberi manfaat bukan hanya mengantongi pita cukai. Ia ingin mengembalikan ruh dari industrialisasi tembakau ke jalan yang lebih bermoral.

Baca Juga :  Terdeteksi Terima Uang Puluhan Juta, PPS Kecamatan Rubaru Terancam Dilaporkan

Langkah-langkah konkret mulai disiapkan. Salah satunya lewat proyek Aglomerasi Pabrik Hasil Tembakau (APHT) di Guluk-Guluk yang sebentar lagi bakal di fungsikan. Di sana, 11 pabrik rokok lokal difasilitasi langsung oleh Pemkab dan PD Sumekar. Mereka diberi tempat, didampingi izinnya dan ditarget untuk segera memproduksi. Ini adalah model yang (setidaknya) mencoba menghindari skema pabrik zombie: hidup di atas kertas, mati di lapangan.

Namun, tetap ada pekerjaan rumah besar: mengubah pola pikir pelaku industri. Bahwa pabrik bukan hanya cara untuk mendapat kuota pita cukai tapi cara untuk menciptakan kesejahteraan. Bahwa produksi tidak boleh hanya sekadar formalitas tapi harus nyata, terlihat, terdengar dan terasa manfaatnya.

Jika tidak, maka “ternak pita cukai” akan terus tumbuh. Dan masyarakat di sekitar pabrik hanya akan jadi penonton dari kemegahan yang tak pernah memberi mereka apa-apa.

Penulis : M.Faizi Jurnalis Serikat News

Loading

Penulis : M. Faizi

Berita Terkait

Lebih dari 400 Santri Jadi Korban MBG, Ning Lia Turun Langsung Beri Penguatan Mental
Dugaan Pungutan Parkir di MCF#4 Jadi Sorotan, Kades Pabian Sebut Begini ke Pemkab Sumenep
Bukan Sekadar Rp3.000 – Rp10.000, Karcis Penitipan Motor di MCF #4 Pertanyakan Legalitasnya
Dari Laporan Nasabah hingga SP3 Penyelidikan, Begini Akhir Polemik Dugaan Emas Palsu di Sapudi
Dugaan Pungli Muncul di Tengah Meriahnya MCF-MNV 2026, Pengunjung Minta Satpol PP Segera Bertindak
Pasien Meninggal dan Dugaan Rawat Inap Disorot, Aktivis ALARM Minta Puskesmas Manding Beri Penjelasan
Haswal Group Resmi Buka Pembelian Tembakau 2026, Harga Tembus Rp70 Ribu per Kilogram
Bangga Hasil Bumi Lokal, Bos Ayunda Group Sebut Produk Olahan Tani Tak Kalah dari Produk Modern

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 06:47 WIB

Lebih dari 400 Santri Jadi Korban MBG, Ning Lia Turun Langsung Beri Penguatan Mental

Rabu, 2 September 2026 - 11:22 WIB

Dugaan Pungutan Parkir di MCF#4 Jadi Sorotan, Kades Pabian Sebut Begini ke Pemkab Sumenep

Selasa, 1 September 2026 - 17:16 WIB

Bukan Sekadar Rp3.000 – Rp10.000, Karcis Penitipan Motor di MCF #4 Pertanyakan Legalitasnya

Minggu, 30 Agustus 2026 - 05:43 WIB

Dari Laporan Nasabah hingga SP3 Penyelidikan, Begini Akhir Polemik Dugaan Emas Palsu di Sapudi

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 21:58 WIB

Dugaan Pungli Muncul di Tengah Meriahnya MCF-MNV 2026, Pengunjung Minta Satpol PP Segera Bertindak

Selasa, 25 Agustus 2026 - 19:40 WIB

Pasien Meninggal dan Dugaan Rawat Inap Disorot, Aktivis ALARM Minta Puskesmas Manding Beri Penjelasan

Senin, 24 Agustus 2026 - 15:38 WIB

Haswal Group Resmi Buka Pembelian Tembakau 2026, Harga Tembus Rp70 Ribu per Kilogram

Minggu, 23 Agustus 2026 - 08:52 WIB

Bangga Hasil Bumi Lokal, Bos Ayunda Group Sebut Produk Olahan Tani Tak Kalah dari Produk Modern

Berita Terbaru

Foto. Grup Musik tong-tong Angin Ribut Tadi Malam, Sabtu 5 September 2026

Lifestyle

OPINI : Angin Ribut yang Seolah Tak Berani Ribut

Minggu, 6 Sep 2026 - 14:13 WIB